Perasaan Saya Ketika Pertama Kali Melihat Kabah

Thursday, December 13, 2018

Saya membuat postingan ini tujuannya bukan mau riya atau pamer, tapi saya benar-benar mau bercerita pengalaman saya pertama kali melihat Kabah. Pertama kali saya sampai di kota Mekkah pada malam hari tepatnya pas waktu sholat Isya. Karena penginapan rombongan umroh saya dekat sekali dengan pasar dan jalan menuju ke Masjid Masjidil Haram maka Bus mau masuk ke hotelnya digunakan aturan buka tutup jalan. 

Jadi, kalau waktu solat Bus tidak diperbolehkan masuk karena terlalu banyak orang yang berjalan berbondong-bondong ke Masjid Masjidil Haram. 

Karena keramaian itulah Bus dilarang masuk dan dibuat aturan buka tutup jalan demi keamanan para pejalan kaki. Pas malam minggu saya melaksanakan ibadah Umroh pertama kali dari Madinah ke Mekkah dan miqotnya di Bir Ali. Lama perjalanan kurang lebih enam jam menggunakan Bus. Sesampainya di Hotel rombongan umroh saya langsung diarahkan untuk makan malam dan pembagian kamar hotel. 

Satu kamar dihuni oleh empat orang dan teman sekamarnya masih sama seperti pembagian di hotel Madinah. 

Oiya, saya masih menggunakan pakaian Ihram dan harus jaga kesuciannya tidak boleh kena wangi-wangian. Setelah makan malam dan pembagian kamar selesai, rombongan umroh saya melanjutkan untuk ibadah Umroh yaitu tawaf, sai dan tahalul di Masjid Masjidil Haram. Karena kami belum solat maghrib dan isya jadi kedua solat itu dijamak. Dan kami solat jamak maghrib dan isya terlebih dahulu sebelum melakukan tawaf. 

Hati saya penasaran untuk melihat kabah, karena kami solat bukan yang berhadapan langsung dengan kabah. Masih didalam Masjid yang tidak terlihat kabahnya. Barulah selesai solat jamak maghrib dan isya kami berjalan menuju kabah untuk tawaf. Disitulah pertama kali saya melihat kabah, perasaan saya melihat kabah dengan perasaan yang biasa saja alias hambar. Tidak ada getaran atau terharu, perasaan saya sama seperti melihat  bangunan yang biasa pada umumnya. 

Sedangkan ada beberapa orang dari rombongan umroh saya sudah menetaskan air mata dan terharu. Tapi kenapa saya biasa aja yah ?!. Berarti ada yang salah didalam diri saya.

Setelah tawaf, sai dan tahalul saya berdoa didalam hati kepada ALLAH, "Ya ALLAH getarkan lah hati ini untuk melihat kabah". Saya merasa ada yang salah didalam diri saya, kami selesai melaksakan ibadah umroh jam satu malam dan setelah itu langsung kembali ke Hotel untuk istirahat.

Sudah diniatin dari hotel nanti solat subuh saya mau solat didepan kabah langsung. Tapi kenyataannya saya tidak bisa karena pintu masuk ke kabah sudah ditutup sama petugasnya. Jadi saya cuma dapat tempat solat di lantai dua tapi masih bisa melihat kabah. 

Hati ini masih biasa saja melihat kabah dan belum ada getarannya. Setelah selesai solat subuh, saya berniat untuk beritikaf didalam Masjid Masjidil Haram. Pintu mau menuju ke kabah sudah dibuka sama petugasnya. Dan saya langsung turun mencari tempat untuk duduk didepan kabah beritikaf. Dalam hati saya membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir berkali-kali barulah hati saya bergetar dan air mata saya mengalir begitu saja dengan sendirinya. 

Semakin banyak saya membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir didalam hati semakin deras air mata saya yang keluar. Padahal disekitaran saya tidak ada yang menangis, cuma saya seorang diri yang menangis. Langsung saya berdoa meminta ampun kepada ALLAH dan lebih deras nangisnya lagi ketika saya mengingat dosa-dosa saya.

Entah kenapa hati saya menjadi lunak dan sensitif. Ketika saya membaca ayat alquran yang membahas iri atau dengki saya langsung merasa itu saya banget dan saya menangis lagi. Yah, begitulah... Cukup lama saya beritikaf dan menangis seorang diri.

Cuma dihari itu aja saya menangis melihat kabah dan hari-hari selanjutnya tidak. Hati saya menjadi lega dan plong ketika melihat kabah. 

Begitulah cerita saya... :-)



         

You Might Also Like

1 comments

  1. Impian setiap umat muslim melihat kabah lgsg dari dekat...

    ReplyDelete