Perjuangan Solat di Raudhah Masjid Nabawi Madinah

Friday, November 23, 2018

"Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga." (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391)

Saya mau berbagi cerita pengalaman pribadi saya ketika berhasil solat di Raudhah Masjid Nabawi, Madinah - Arab Saudi. Untuk saya, solat di Raudhah tidak lah mudah dan butuh usaha yang cukup keras. Karena saya harus berlomba-lomba atau rebutan dengan hamba Allah yang lain untuk solat disana.   

Saya sampai ke Kota Madinah diwaktu subuh dari jeddah menggunakan bus dan lama perjalanan kurang lebih enam jam. Saya solat subuh berjamaah dengan beberapa orang dari rombongan group umroh saya yang diimami oleh tour leader kami di Masjid Nabawi. Saya tidak sempat solat subuh tepat waktu berjamaah dengan imam Masjid Nabawi. Karena, begitu sampai di hotel langsung pembagian kamar dan kami harus membawa barang bawaan masing - masing ke kamar hotel. Jadi, waktunya pas berbarengan dengan solat subuh di Masjid Nabawi.

Setelah solat subuh tour leader umroh saya mengajak kami tour singkat sekitaran Masjid Nabawi. Kami diajak ke makam Rasulullah dan kedua sahabatnya, setelah itu kami dibebaskan 2 hari kedepan untuk beribadah sepuasnya di Masjid Nabawi.

Hotel penginapan saya letaknya tidak lah terlalu jauh dari Masjid Nabawi. Cuma jalan beberapa ratusan meter sudah sampai ke Masjid Nabawi, setelah tour singkat saya kembali ke Hotel untuk sarapan pagi. Habis itu saya langsung istirahat dikamar hotel untuk rebahin badan yang capek karena duduk didalam bus selama enam jam.

Sebelum masuk waktu solat Dzuhur saya sudah bergegas ke Masjid Nabawi, karena ini adalah hari pertama saya di Madinah jadi masih excited untuk mengeksplor Masjid Nabawi yang begitu luas dan megah. Saya masih belum niat untuk solat di Raudhah karena masih belum terbayang aja suasanannya seperti apa. Setelah sampai di Masjid Nabawi saya terus berjalan ke depan sampailah saya melihat orang berantrian ramai didepan terpal putih yang tertutup dan saya pun ikutan antri.

Saya juga nggak tahu pasti mereka mengantri untuk apa, karena orang ramai mengantri yah saya ikutan antri saja. Saya lihat di balik terpal putih petugas pembersih Masjid lagi mem-vacum cleaner sejadah  yang akan digunakan untuk solat Dzuhur.

Begitu terpal putih dibuka orang-orang pada sibuk lari berhamburan untuk mengambil shaf terdepan atau yang terdekat dengan Makam Rasulullah. Dan saya pun ikut berlarian dan mengambil shaf yang kosong, saya dapat dua shaf kebelakang dari Raudhah dan dekat dengan Makam Rasulullah. Ternyata saya baru sadar, orang  - orang ramai yang mengantri tadi itu berlomba-lomba untuk bisa solat di Raudhah dan dekat dengan makam Rasulullah.

Jantung saya berdebar kencang dan merasa terharu karena saya dapat shaf yang dekat dengan makam Rasulullah dan Raudhah pada hari pertama untuk solat berjamaah Dzuhur. Wah, tinggal beberapa langkah lagi saya bisa sampai ke Raudhah nih dalam pikiran saya. Setelah solat Dzuhur orang - orang pada maju ke depan untuk bisa solat sunat dan berdoa di Raudhah.

Saya pun ikut melangkah maju dan berdesak-desakan di Raudhah tapi saya gagal untuk solat sunat dan berdoa disana. Karena badan saya terhimpit dan terus dapat dorongan dari belakang, lama-kelamaan saya terhempas ke depan sampai pintu keluar. Bagi saya ini permulaan yang sangat baik, nggak apa-apa belum bisa sholat  dan doa di Raudhah karena masih ada beberapa hari lagi saya bisa mencoba kembali.

Setelah itu saya pulang ke hotel untuk makan siang, istirahat sebentar dan pergi lagi ke Masjid Nabawi untuk solat Ashar berjamaah. Sampai di Masjid Nabawi pun saya masih melakukan yang sama dengan solat Dzuhur sebelumnya. Saya ikut mengantri lagi, dan saya dapat shaf yang tidak begitu jauh dengan Raudhah dan makam Rasulullah. Cuma beberapa shaf lagi sudah sampai di Raudhah.

Setelah sholat Ashar, orang - orang pada maju kedepan untuk bisa solat dan berdoa di Raudhah. Dan saya pun ikutan lagi maju kedepan tapi saya cuma bertahan berdiri dishaf belakang Raudhah karena kalau saya ikutan maju nanti saya akan terdorong kedepan dan sampai ke pintu keluar lagi. Saya sudah berdiri lama dan berdesak-desakan pun tidak dapat kesempatan untuk solat sunat dan berdoa di Raudhah.

Sampai waktunya habis kami semua yang berada dilokasi Raudhah diusir sama polisi penjaganya untuk keluar. Sebenarnya kalau saya paksain untuk solat bisa karena benar-benar sudah sepi. Orang - orang sudah berhamburan berjalan ke pintu keluar, tapi ada juga yang mengambil kesempatan untuk buru-buru solat dan berdoa di Raudhah. Sebenarnya saya juga bisa, tapi buat apa kalau saya harus terburu-buru solat dan berdoa tanpa dinikmati. Dan akhirnya saya ikutin intruksi polisi penjaganya untuk keluar saja.

Setelah keluar dari lokasi Raudhah saya tidak pulang ke hotel dan lanjutkan itikaf di Masjid sampai maghrib dan isya. Nah, di waktu maghrib saya dapat shaf yang pas disebelah terpal putih tempat pembatas Raudhah. Disebelah kiri saya ini sudah Raudhah cuma pembatasnya terpal putih saja. Waktu itu saya yakin akan bisa solat dan berdoa disana setelah solat Maghrib.

Kenyataannya, setelah maghrib orang begitu ramai menuju ke Raudhah. Tubuh saya terhimpit dan sesak dapat dorongan dari belakang. Suasananya lebih ramai dari pada waktu siang dan sore tadi, saya pun sudah pasrah aja dan akhirnya terhempas kedepan kepintu keluarnya. Hati saya mulai sedih, sudah tiga kali mencoba kok masih belum berhasil yah... Karena desakan yang padat saya jadi trauma untuk mencoba kembali setelah solat Isya.

Dalam hati saya mendumel sedih, yah Allah kok saya susah banget yah solat di Raudhah. Padahal, kalau yang dibarisan depan itu memanggil saya untuk sebentar gantian solat aja saya pasti bisa. Tapi nggak ada yang memanggil saya untuk solat, malahan polisi penjaganya yang memanggil saya untuk keluar. :-(

Saya merasa belum pantas untuk solat di Raudhah. Terus, solat Isya-nya saya mengambil shaf yang paling belakang aja. Ternyata beda solat di shaf depan dengan belakang, Kalau shaf yang di depan barisannya selalu padat dan orang akan berlomba-lomba untuk mencari shaf yang kosong. Tapi shaf dibelakang itu begitu lenggang malahan barisannya itu tidak begitu rapat seperti yang didepan.

Setelah itu saya pulang ke hotel untuk makan malam. Dan makin sedihnya lagi pas berbincang sama teman sekamar saya di kamar hotel. Bahwa dia sudah berhasil solat di Raudhah, malahan dia ditarik sama seseorang untuk solat disana. Beda yah... Saya ditarik untuk disuruh keluar sama polisi penjaganya eh dia ditarik sama orang untuk solat.

Pertengahan malam saya nggak ke Masjid Nabawi untuk solat sunat atau membaca al quran. Saya memilih untuk istirahat saja karena sebelum subuh saya harus bangun. Lagian, tubuh butuh istirahat juga dan saya tidak mau memaksakan diri.

Besok harinya saya datang ke Masjid Nabawi sebelum azan Subuh, untuk sholat di shaf dekat raudhah dan makam Rasulullah sudah padat dan ramai. Saya masih belum berani untuk mencoba lagi ke Raudhah, saya harus memantaskan diri dulu dan banyak - banyak solat taubat di Masjid Nabawi. Habis solat subuh saja langsung pulang ke hotel untuk sarapan pagi dan lanjut istirahat di kamar hotel.

Hari kedua saya di Madinah pas hari jumat, jadi saya bisa merasakan solat Jumat di Masjid Nabawi. Pas solat Jumat saya tidak dapat shaf yang terdepan seperti kemaren tapi di tengah - tengah dan agak jauh dari Raudhah dan makam Rasulullah. Hati ini masih pengen coba lagi sih ke Raudhah tapi saya masih belum pantas, habis solat jumat saya memang sengaja tidak balik lagi ke hotel untuk makan siang.

Saya tenangkan hati ini dulu untuk mengelilingi Masjid Nabawi, terus saya ketemu perpustakaan Masjid Nabawi yang pintu masuknya di No 10c. Saya masuk ke perpustakaannya dan melihat-lihat buku apa aja yang ada disana. Ternyata banyak buku yang saya tidak mengerti bahasanya, tulisannya arab gundul semua. Tanpa sengaja saya ketemu ada ruangan khusus buku bahasa lain selain bahasa arab. Ketemulah buku yang berbahasa Indonesia, saya memilih buku judulnya "Muhammad".

Iya, saya mau numpang solat di tempat Beliau (Nabi Muhammad SAW) tapi saya belum mengenal banyak tentang Beliau. Sekilas saya baca buku itu karena bukunya cukup tebal, bukunya bagus banget tentang sejarah perjalanan hidup Beliau. Setelah saya selesai membaca buku masih terbesit dalam hati saya untuk solat di Raudhah.

Saya turun keluar dari perpustakaan terus ambil wudhu dan mencoba untuk mengantri solat di Raudhah. Saya mengantrinya memang tempat mengantri untuk solat di Raudhah bukan seperti yang kemaren saya ngantri yang memang bukan tempat sebenarnya untuk mengantri. Saya datang saya paling antrian yang terakhir, tidak lama kemudian makin banyak yang mengantri dibelakang saya. Waktu itu jam menunjukkan pukul dua siang, dalam hati saya banyak bersalawat kepada nabi Muhammad, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil dan baca surat al fatiha.

Saya tidak mau gagal lagi, setelah setengah jam saya berdiri mengantri kok pergerakan kedepan sangat minim banget. Saya takut diusir lagi dan tidak dapat berkesempatan untuk solat dan berdoa di Raudhah tapi hati saya tidak putus untuk bersalawat kepada nabi Muhammad, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil dan baca surat al fatiha.

Waktu sudah menunjukkan hampir jam tiga sore dan pergerakan maju ke depan cukup minim. Saya melihat dibelakang saya antriannya sudah banyak. Saya makin takut karena mendekati waktu solat Ashar, apakah saya akan diusir lagi dan antrian ini bakalan dibubarkan karena mau solat ashar?!. Mau keluar dari antrian sudah tanggung, jadi saya masih bertahan saja didalam antrian.

Akhirnya terpal putihnya dibuka dan orang - orang pada lari berhamburan untuk mengambil shaf solat di Raudhah. Alhamdulilah, saya dapat tempat untuk solat di Raudhah. Yang awalnya saya mau solat tobat aja tapi setelah dapat tempat di Raudhah langsung reflek solat taubat nasuha. Alhamdulilah, rasanya itu bangga, sedih dan bersyukur banget kepada ALLAH. Nggak menyangka hamba yang masih belum pantas ini diberi kesempatan untuk solat di Raudhah.

Allah kasih kesempatan ke saya untuk solat Ashar berjamaah di Raudhah. Rasanya begitu nikmat luar biasa. Perjuangan saya terbayar sudah... Dan malamnya saya coba solat dan berdoa lagi di Raudhah.

Suasana malam ternyata berbeda dengan siang hari untuk solat di Raudhah. Kalau siang ada penjaganya terus dibatasi dengan terpal putih jadi hanya orang - orang yang mengantri saja yang bisa masuk. Tapi kalau malam, tempat antrian yang siang tadi tidak ada. Saya sempat pesimis untuk bisa lagi solat dan berdoa di Raudhah lagi, tapi dalam hati saya bergumam "Ya Allah, aku yakin pasti masih banyak hamba - hamba MU yang berbaik hati untuk mau bergantian solat disini".

Setelah sampai di Raudhah saya berdiri melihat situasi apakah ada shaf yang kosong?!. Ternyata penuh dan trick saya adalah menepuk pundak seorang bapak-bapak yang sudah saya awasi gerakannya, dia sudah melakukan solat terus berdoa dan lagi duduk itikaf aja. Setelah saya menepuk pundak bapak itu terus saya berkata "Pak, bisa saya solat dan berdoa sebentar saja ditempat bapak ini?!". Alhamdulilah, bapak itu pengertian dan mengasihi saya kesempatan untuk solat dan berdoa ditempatnya. Setelah itu saya kembalikan tempat bapak itu yang mengawasi saya dari belakang.

Begitulah cerita saya untuk solat di Raudhah... :-)

  

You Might Also Like

2 comments