Pertukaran Pelajar Antar Negara dan Benua

Monday, November 07, 2016

Postingan interview ala-ala saya edisi ke tujuh ini akan membahas pertukaran pelajar keluar negeri. Waktu jaman saya masih muda (Sekolah/Kuliah) dulu nggak pernah ikutan pertukaran pelajar. Saya dulu nggak suka berkompetisi atau ikut-ikutan lomba apa gitu, yang penting nilai nggak ada yang jelek sudah cukup bagi saya. #tuing #rapiinponi

Bintang tamu saya sudah beberapa kali terpilih untuk mengikuti pertukaran pelajar keluar negeri. Doi juga punya beberapa usaha makanan di Batam. Bukan hanya itu doi juga dapat beasiswa full kuliah disalah satu universitas swasta di Batam. Wouw...

Penasaran dengan bintan tamu saya ?

Yuk, disimak interview saya dengan doi... :-)

- Halloooo bintang tamu diblog saya, apa kabar ? Silahkan perkenalkan diri dulu...

Baik dan sedikit galau sama cuaca korea yang labil, haha. Nama saya Debby Anita, bintang cancer, cita-cita : kurus.

- Sudah berapa kali ikutan pertukaran pelajar dan ke negara mana aja ?

Sudah 3 Kali, yang pertama Amerika Serikat tahun 2010 jaman SMA. Kedua Malaysia tahun 2015 ( Universitas Teknikal Melaka ), ketiga Korea Selatan 2016 ( Chatolic Daegu University ).

- Ceritain dong pengalamannya waktu ikutan seleksi testnya dan sampai lulus ?

Kalau yang Amerika, aku ngelewatin 3 kali test, yang pertama bikin essay dalam bahasa inggris, yang kedua diwawancara via telpon, yang ketiga diwawancara langsung di hotel gitu berhadapan dengan orang-orang embassy Amerika.

Kalau yang ke Malaysia, ngejalanin test dari kampus aja, terus kumpulin TOEIC dan nilai-nilai dari semester satu, IPK nggak boleh di bawah 3.

Yang ke Korea juga, sama kaya yang ke Malaysia. Padahal aku ke Korea sudah semester akhir dan tinggal skripsi, tapi ya masih pengen belajar sambil jalan-jalan, haha.


- Pernah nggak lulus test juga, deb ? Waktu itu ikut test pertukaran pelajar kemana.

Waktu itu ikut test yang ke Swiss, tapi testnya di online gitu, sempet ngelewatin beberapa round tapi gagal. Terus ikut test dari kanpora yang PPAN (pertukaran pelajar antar negara), waktu itu aku milih ke Korea juga dan nggak lulus, rangkaian tesnya banyak banget sampai tertulis dan unjuk bakat. mungkin aku belum beruntung di sana karna yang dipilih cuma 1 orang untuk berangkat tiap negara (ada banyak pilihan negara di PPAN seperti canada, malaysia, jepang, dll)

- Bagaimana sistem pembelajaran disana ?

Kalau Amerika, waktu itu karna masih SMA dan juga programnya cuma sebulan, jadi lebih ke study banding dan study vacation aja, dan kami datang pas summer yang mana anak-anak Amerika pada liburan dan cuma anak-anak yang nilainya kurang aja yang dapat kelas tambahan selama summer. Jadi kalau soal Amerika aku lebih paham perbedaan budayanya aja dibanding sistem belajarnya.

Terus waktu di Malaysia, semua kelas pakai bahasa inggris, termasuk slide dan ujiannya. Kalau bisa dibilang, aku suka banget sistem pembelajaran di Malaysia, professornya ngasih pelajaran detail banget dan sampai paham, bak ibu yang bikinin nasi goreng sekaligus nyuapin, dan kita tinggal nelen, hehe. Jam perkuliahannya sama seperti di Indonesia, bedanya anak-anak di Malaysia lebih giat dan gigih dalam berkompetisi dan ngerjain tugas. mereka jarang bolos dan titip absen.

Dan sekarang di Korea, kebanyakan orang Korea nggak bisa bahasa inggris, and that was the big obstacle that i have in here. Aku sebelum kesini mendadak banget, enggak pernah belajar bahasa Korea, dan ternyata orang Korea nggak bisa bahasa inggris. Semua pembelajarannya pakai bahasa Korea, bahkan kelas inggris yang kami ambil pun profesornya tetap harus menjelaskan dalam dua bahasa, Inggris dan Korea, dan itu sangat-sangat membingungkan. Tapi dari sisi kerajinan, orang Korea ini gigih-gigih banget, walaupun di bahasa inggris mereka nol, tapi di pelajaran lain mereka berjuang keras untuk belajar terus.


- Bagaimana mereka (siswa/i, guru/pembimbing, masyarakat lokal) menanggapi perbedaan ras, budaya dan negara ?

Amerika : so far so good, mereka lebih humble, ketemu di jalan nyapa padahal nggak kenal. Terus mereka bener-bener take care of us, temen-temen Amerika juga asik banget, bahkan engga terlalu mempermasalahkan hijab aku dan tetap easy going untuk ngajak ngomong dan berteman.

Malaysia : Untuk professor mostly mereka beneran baik banget dan care, untuk teman Malaysia mostly mereka individual dan nggak terlalu care sama orang asing apalagi dari Indonesia, yah gitu dah. Indonesia tidak terlalu indah di mata orang-orang Malaysia.

Korea : mereka bener-bener tertutup, bahkan aku nggak habis pikir sebodoh apa sih mereka sampai engga tahu hijab itu apa, islam itu apa, kenapa kami pakai hijab dan di mana Indonesia itu berada. Such as why they don't know everything? Jadi kami enggak terlalu dihiraukan sama anak-anak Korea sini, tapi dari sebagian temen Korea yang berani ngomong ke kita bilang kalau orang Korea itu takut, malu dan segan ngomong sama orang asing, apalagi mereka nggak bisa bahasa inggris. Ini cerita based in Daegu, kalau di Seoul mungkin beda lagi karena mereka sudah lebih moderen bahkan bisa bahasa Indonesia sedikit.


- Mata kuliahnya atau pelajarannya susah nggak sih ? 

Di Malaysia malah aku lebih paham daripada di Indonesia, kemarin pas di sana aku ambil matakuliah sesuai jurusan yang aku ambil dan dapet banyak ilmu banget di sana.

Kalau di Korea, engga soalnya cuma ambil bahasa inggris bisnis, jadi ya gitu-gitu doang hihi.


- Pengalaman apa yang kamu dapat setelah belajar dinegeri orang dan barangkali bisa diterapkan disini (Indonesia) ?

Orang luar negeri itu kompetitif banget, bikin aku jadi makin terpacu untuk lebih doing effort for my future. Orang luar negri jarang yang males belajar, mereka ngerti banget kalau mereka harus hidup dengan baik dan sekolah adalah salah satu cara penting untuk mencapainya, jadi ada baiknya mindset kita orang Indonesia harus seperti itu juga. 

Ilmu itu luas, tanpa batas semakin jauh kita pergi maka semakin paham betapa kecilnya kita didunia ini. Aku lebih belajar bisa memanage diri dan menjaga diri, serta bekerja keras untuk memberikan prestasi yang terbaik. 

Indonesia harus lebih baik dan lebih kreatif dengan anak-anak Indonesia yang memiliki bakat terpenda.


- Ada cita-cita pengen belajar dikampus atau dinegara mana ?

Aku pengen ke Jerman, Inggris dan Newyork.

- Tips biar bisa survive dinegara orang ?

Jangan baperan, harus berani nanya, jangan egois, jangan manja, jangan kekanakan, harus kuat lahir batin karna hidup di negeri orang itu keras, jangan pemalas dan cepet capek, think that everything is a journey, pantang menyerah. 

- Kasih tips dan tricknya buat adek-adek kelas yang ingin juga ikutan pertukaran pelajar ? 

Ada kemauan ada jalan, ada niat yang gigih ada jalan. Percaya Tuhan punya banyak hadiah istimewa untuk hambanya yang tidak pernah lelah meminta. Persiapkan bahasa, minimal bahasa inggris, jangan takut dana nggak ada karna sekali Tuhan bilang iya, pasti akan ada jalan dari mana saja. Semangat!








***

Terima kasih debby sudah mau berbagi cerita pengalamannya belajar dinegeri orang. Salam yah buat dedek-dedek gemes korea disana. Heheheheeheeeeee.... :-D

Yang mau kenalan lebih dekat dengan bintang tamu saya, silahkan mampir ke blognya debby di http://www.debbyanita.com.

Yang mau baca postingan interview ala-ala saya edisi 1 - 6 silahkan disini.

You Might Also Like

5 comments

  1. Interview yg menarik...para pemudi yg bisa jadi suri tauladan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Role model om... Cantik, pinter, modis dan mandiri

      Delete
  2. muda pintar penuh semangat...semangat nya ini yang perlu dicontoh siapapun

    ReplyDelete
  3. tatap menjadi yang terbaik ya om.. terus berkarya :)

    ReplyDelete
  4. seru juga ya kalau bisa sampai bertukar pelajar ke luar negeri gitu, yang penting sih kitanya pintar dan lagi bisa dapet pengalaman yang bagus juga..

    ReplyDelete