Surat buat kamu dari saya

Wednesday, April 10, 2013



Dear kamu,

Hi kamu, apa kabar ? Sudah lama kita tidak bertegur sapa dan bertukar cerita melaui telpon atau SMS. Masih ingat kah kamu, sebelum kamu memutuskan untuk tidak mau berkomunikasi lagi dengan saya. Dulu saya sering menelpon ataupun SMS kamu untuk menanyakan kabar, sedang apa atau hanya sekedar basa-basi untuk mencari perhatian kamu. Dan saya sangat senang, ketika kamu mau menjawab dan menanggapi semua pertanyaan atau pernyataan yang saya pernah utarakan.

Perkenalan kita memang cukup singkat, hampir 4 bulan kita dekat. Diwaktu yang singkat itu, saya mencoba untuk mengenal kamu lebih dalam dan memahami karakter kamu. Saya bersyukur bisa mengenali kamu lebih jauh. Walaupun hubungan kita Cuma sebatas pertemanan dan kamu belum bisa membukakan hatimu buat saya. :-)
     
Oiya, liburan kemaren saya datang ke kota mu. Pasti kamu masih ingat kan ?! Ketika sebulan sebelum keberangkatan liburan saya dan teman-teman, saya bilang mau liburan ke kota mu. Dan saya minta kita bisa bertemu. Maklum, saya dan kamu selama ini berkomunikasi cuma lewat suara atau tulisan singkat saja melalui telepon seluler. Bahkan, kita belum pernah sama sekali bertemu dan beratap muka langsung.

Saya sudah membayangkan kalo kita akan berjumpa dan hubungan kita kedepannya akan menjadi lebih dari sekedar pertemanan. Indah sekali kalau saya membayangkannya. Ah, itu cuma skenario kecil yang saya buat. Dan ternyata TUHAN memiliki skenario lain yang telah DIA buat untuk kita. Entah kenapa, sikap kamu menjadi berubah ke saya beberapa minggu sebelum saya mau liburan ke kotamu.

Kamu tidak lagi mau menjawab telpon atau SMS dari saya. Saya pun bingung atas sikap kamu seperti itu. Padahal, hubungan kita beberapa hari sebelumnya baik-baik saja. Sampai saat ini, saya pun masih belum mendapatkan penjelasan langsung dari kamu. 

Tahu kah kamu… Saya merasa sedih dan hati ini hancur atas tindakan yang telah kamu lakukan itu kepada saya. Saya sudah berkali-kali mencoba menelpon kamu, tapi kamu tetap tidak mau mengangkatnya. Dan SMS saya pun enggan juga kamu membalasnya.

Dengan usaha apalagi yang harus saya lakukan agar bisa berkomunikasi dengan kamu. Kita memang dipisahkan oleh samudra tapi masih satu naungan dengan langit yang sama. Sampai akhirnya, saya menyerah untuk memperjuangkan cinta saya ke kamu. Saya menulis SMS untuk terakhir kalinya ke kamu kalau saya tidak akan mengganggu kamu lagi dalam bentuk apapun dan minta maaf kalo saya ada salah kepadamu. Kamu pun mau membalas SMS terakhir itu dengan menanggapinya tidak serius.

Hati saya benar-benar hancur untuk malam itu, saya ingin menangis tapi air mata ini enggan untuk menetes. Ternyata patah hati itu sakit, pilu dan sesak dihati. Saya harus merelakan, mengikhlaskan dan melepaskan cinta saya bukan lagi buat kamu. Ruang dihati ini kembali kosong, sepi dan sunyi karena kamu enggan untuk menempatinya.    

Dari kejadian ini saya belajar bahwa memberikan cinta kita ke orang lain harus ikhlas tanpa pamrih. 

Tapi sekarang hati dan pikiran saya sudah mulai terbiasa lagi tanpamu. Saya belajar untuk melupakanmu tapi selalu gagal. Ternyata kamu itu tidak bisa dilupakan, akan selalu jadi kenangan terindah dihati saya.   

Oiya, saya akan menceritakan liburan saya ke kotamu. Bersyukurlah kamu dititipkan oleh TUHAN untuk tinggal disana. Dikotamu banyak sekali terdapat pantai yang cantik, indah dan bagus. Sampai-sampai saya pun jatuh hati sama pantai yang ada dikotamu. Pasirnya sangat putih dan halus, air lautnya pun bening dan berwarna biru. Nikmat TUHAN mana yang saya dustai karena bisa menyaksikan pantai seindah itu.    

Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki ke kotamu. Saya disambut oleh hujan, semesta pun mendukung agar saya bisa melupakanmu. Biarlah tetesan hujan ini yang menghapus jejak mu. Mungkin begitulah TUHAN dan semesta berkonspirasi. 

Dan saya harus memasang topeng kebahagian agar tidak kelihatan kesedihan diraut wajah saya kepada teman-teman saya. Saya mencoba tersenyum berlibur ke kotamu bersama mereka, walaupun hati saya masih menangisi kehilangan kamu. :-)

Ditepi pantai saya mencoba buang jauh-jauh kenangan tentang kamu. Tapi, sejauh apapun saya buang kenangan itu ke samdura. Ia akan tetap tedampar ketepian pantai yang dibawa oleh ombak. Kenangan itu tidak akan hilang, tapi juga tidak akan kembali lagi.

Saya ucapkan terima kasih banyak buat kamu yang telah mau berteman sama saya selama hampir 4 bulan. Dan saya yakin, setiap peristiwa atau kejadian pasti akan selalu ada hikmahnya. Saya bersyukur memiliki TUHAN yang selau ada untuk mendengarkan curhatan saya. :-)

*sekarang saya lagi menata hati dan selalu berhati-hati untuk memberikan hati*




Hormat saya,



Saya yang pernah mencintai kamu.

You Might Also Like

0 comments