Si Budi Kecil...

Saturday, September 24, 2011

Namanya bukan Budi tapi Acok... Umurnya masih 6 tahun, badannya kurus, kecil dan kulitnya hitam. Kalo nyengir lucu sekali seperti kuda ompong. Hehehehee............ Sangat wajar untuk anak seumuran seperti dia, gigi-gigi serinya pada ompong karena ada pergantian dari gigi susu ke gigi permanent.


Profesi Acok adalah pengamen, dia baru bisa 3 lagu untuk dinyanyikan. Yaitu "Aku bukan bang toyib - Wali", "Andai aku jadi gayus - Bona", "Punk rock jalanan - Lagu anak pengamen". Acok mengamen tidak sendiri, banyak teman2 sebaya-nya yang ikut juga mengamen. Mereka segerombolan datang dan pulang bersama. Tapi waktu mengamen mereka dipecah dan dibagi perkelompok.


Gue nggak tahu apakah mereka dikoordinir oleh seseorang atau tidak. Soalnya, gue pernah tanya ke Acok "Disuruh siapa mengamen ?!" lalu dia menjawab "Kemauan sendiri..." Ya, sudahlah. Hidup ini adalah pilihan dan Acok memilih hidupnya untuk mengamen.


Kelompok Acok terdiri dari 3 orang waktu itu, yaitu Alex (13 Tahun), Adeknya Acok (5 Tahun) *gue lupa nama aslinya siapa* dan Acok (6 Tahun). Si Alex-lah yang paling besar diantara mereka, dia selalu membawa ukalele untuk mengamen. Sebenarnya si Alex tidak bisa untuk memainkan alat musik ukalele. Dia terlalu pede mengamen dengan ukalele, maksudnya adalah nada lagunya entah kemana dan musiknya entah dimana. Yang penting asal bunyi jreng...


Huft... #helanapas.

Hati ini terasa miris melihat Acok, Adeknya dan Alex bernyanyi buat menghibur kami yang lagi makan. Hidup yang mereka jalani cukup keras... Gue sempat berbincang sedikit dan memberi makan kepada mereka bertiga. Kebetulan gue dan beberapa teman alumni SMK lagi mengadakan reuni dan buka puasa bersama. Banyak makanan tersisa karena banyak teman - teman gue yang tidak datang ke acara tersebut.


Dengan lahapnya mereka makan... Ah, kalo mengingat mereka. Gue teringat keponakan - keponakan gue yang seumuran dengan mereka. Dan alhmadulilah kehidupan ponakan gue lebih baik daripada mereka bertiga yang harus bekerja demi kelangsungan hidup.


Orang tua mereka lengkap dan lagi berada dirumah masing-masing, gue tanya ke Acok "Orang tuanya kerja dimana ?!" | "Bapak kuli bangunan, kalo ibu tukang nyuci". Tapi gue heran sama orang tuanya Acok, kenapa membiarkan anak-anak mereka mengamen dijalan pada malam hari tanpa bimbingan mereka. Apakah karena masalah kesulitan ekonomi sedemikian rupa sehingga mereka tega mengobarkan anak-anak mereka. *sungguh tragis*


Kalo gue jadi orang tua Acok, gue tidak akan membiarkan anak - anak gue yang masih kecil untuk membantu perekonomian keluarga. Biarlah gue sebagai ayah mereka yang membanting tulang dan bekerja keras mencari dana untuk menafkahi dan menyekolahkan mereka. Tugas mereka hanya belajar, tidak lebih dari itu. 


Hidup itu tidak seindah seperti yang kita bayangkan teman, harus dengan sabar, usaha dan kerja keras menjalaninya...


Inilah sebuah realita hidup tentang si Acok aka Si Budi Kecil...


Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal
(Sore Tugu Pancoran - Iwan Fals)

You Might Also Like

2 comments

  1. Aahhh, pantesan kerja keras, demi kebahagiaan si ucok ya ....

    Any how, nice posting ... (^__^)

    ReplyDelete
  2. waktu pulang kerja, gue ketemu Acok and the genkz disimpang jalan. Mereka lagi mau berangkat ke tempat kerja. :-)

    ReplyDelete