Liburan Ekspress Ke Pulau Bintan

Tuesday, June 07, 2011

Part 2



Brum… Tutt… Tuttt.. Asyik, busnya berangkat, dalam hatiku bergumam. Dubidu-bidu syalalalallalalallaa……. *Beberapa meter kedepan* Tiiiiiiiiitttttttttttttt… Suara rem dari buspun terdengar kencang. Alamak jang, Busnya berhenti secara mendadak dangdut !!!!. Apakah bensinnya habis atau mesin rusak atau bannya bocor atau… ??? Itulah pertanyaan didalam benakku.

Si abang supir memberhentikan mesin dan keluar dari bus. Aku perhatikan, dengan gaya  santainya si Abang langsung duduk di kursi kayu panjang bekas warung. Hati ini terasa tidak tenang karena aku harus bergelut dengan waktu untuk sampai di Tanjung Pinang.

Aku pun beramsusi sendiri didalam hati. Kalau aku sampai di sana keburu sore, percuma dong. Tidak sempat jalan – jalan atau mengeksplorasi tempat – tempat yang menarik disana untuk dikunjungi. Karena harus mengejar Bus yang terakhir berangkat dari Tanjung Pinang Ke Tanjung Uban. Uhuk… 

Apakah kalian tahu sodara – sodara, kenapa si abang supir memberhentikan busnya secara mendadak dangdut… ??? Eng… Ing… Eng… Ternyata sodara – sodara kita harus menunggu penumpang lagi. Hiks…. -__________-“ #MakinDowerNihBibir.

Ya sudahlah…. Kasian juga supirnya kalo penumpangnya hanya sedikit. Bakalan boros di bensin… Ada penambahan penumpang sih, cuma satu atau dua orang gitu.

Akhirnya… Buspun berangkat. *Sumpah, ini beneran berangkat*

Jalan raya dari Tanjung Uban ke Tanjung Pinang sangat sempit. Disamping jalan raya, tidak ada lagi pohon – pohon besar nan rindang yang berdiri tegak. Semuanya sudah habis dibabat, cuma ditumbuhi ilalang dan rerumputan liar yang tumbuh dari hasil pembabatan hutan.

Jalurnya pun berbelok – belok dan bertikungan tajam.

Ternyata, perjalanan ini sangat jauh dan melelahkan. Dari Tanjung Uban ke Simpang Lagoi aja butuh waktu hampir satu jam… Kita sih cuma lewat aja disimpang Lagoi, itupun gerbangnya aja. Jadi tidak melewati pantainya yang indah. :-(

Di simpang Lagoi ternyata ada terminal pemberhentian bus. Sudah pasti dunkz, si abang supir memberhentikan busnya lagi. Hiks… Hampir 20 menitan

Eh, iya. Aku melakukan perjalanan ini sendiri. Soalnya temanku harus bekerja pada hari sabtu sebagai hari wajib. Dia hanya libur hari Minggu dan Senin.

Heeehhhhmmmmmmm…. Melakukan perjalanan sendiri itu lebih menyenangkan yah ? *Bagi yang sudah merasakannya*. Bagi yang belum pernah nyobainnya pasti bakalan berpikir “Dimana Enaknya ???” wong, cuma jalan sendiri tidak ada temannya….

Hei, nanti dulu… Disinilah tantangannya, yaitu “Melawan Diri Sendiri”. Mencoba jalan baru yang belum pernah kita lalui dan bertemu dengan orang – orang baru itu ternyata lebih mengasyikan & menyenangkan. Banyak hal – hal baru yang aku dapatkan.

Contohnya seperti aku, orangnya yang bertype INTROVERT *individual, pendiam dan tertutup*. Mau tidak mau atau suka tidak suka, aku harus banyak bertanya dengan orang – orang baru yang ketemu dijalan atu dimana aja. Berarti aku harus aktif dunkz menegur, berbicara dan bertanya sama orang baru . Padahal, itu bukan diriku.

Jam 3 sorean aku baru sampai di Batu Sepuluh – Tanjung Pinang. Disinilah tempat pemberhentian terminal terakhir dari Tanjung Uban ke Tanjung Pinang. Setelah sampai aku bertanya sama supir Busnya, “Jam berapa bus terakhir berangkat bang ?” “jam setengah lima terakhir dan tunggu di depan sana”.

Dan aku melihat jam… Apa !!!!! sudah jam setengah empat sore. Waduh, terkejar nggak ya dengan bus terakhir. Buru – buru aku masuk angkot untuk menuju ke Pelabuhan Tanjung Pinang. Sumpah, padahal aku tidak tahu harus menuju kemana, dan kepikiran aja gitu menuju ke Pelabuhan. *Entahlah, yang penting travelling*.

Ongkos naik angkot dari Batu Sepuluh ke Pelabuhan hanya Rp.5000. Berasa traveling naik mobil pribadi dah, diajak berkeliling Tanjung Pinang menelusuri jalan raya. Kota Tanjung Pinang lebih padat penduduknya dibandingkan Tanjung Uban. Sarana Transportasi umum disini lebih mudah dan gampang bila dibandingkan dengan disana (Tanjung Uban).

Tiba dipelabuhan Cuma numpang makan dan pipis aja, terus naik angkot lagi deh ke Batu Sepuluh. Soalnya, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Jujur, aku juga tidak tahu harus menunggu angkot dimana atau yang seperti apa untuk menuju ke Batu Sepuluh. Aku mencoba berjalan terus dan menunggu ditepi trotoar jalan untuk memberhentikan angkot yang sedang lalu lalang.

Dengan pede-nya aku bilang “Batu Sepuluh Bang ?” “iya…”. Langsung aku menaikinya. Dalam angkot hatiku berdebar – debar dan berdoa. Semoga aku bisa menaiki Bus terakhir ke Tanjung Uban. Didalam benakku Cuma ada 2 pilihan :

  1. Kalau aku bisa berngakat ke Tanjung Uban dengan menaiki bus terakhir, berarti aku pulang ke Tanjung Uban dengan selamat. Dan besoknya bisa bersepeda ria.
  2. Kalau aku ketinggalan Bus ke Tanjung Uban, berarti aku harus menginap semalam di Tanjung Pinang dan besok paginya baru ke Tanjung Uban naik Bus.

Hati ini sudah was – was, takut tidak terkejar Bus terakhir. Alamak jang, abang supir angkot ini ternyata ambil jalur yang berbeda dengan yang aku pergi tadi. Berkeliling – liling entah kemana – mana, akupun tidak tahu. Yang jelas pemberhentian angkot ini Cuma di Batu Sepuluh.

Akhirnya akupun sampai di Batu Sepuluh jam setengah lima sorean. Dan alhamdulilah, Bus-nya masih ada. Tanpa basa basi langsung aku menaikinya…

Ternyata Sodara – Sodara !!! Kita harus menunggu penumpang lagi. -_____________-“.

Buspun berangkat jam lima sore.

Dalam sebuah perjalanan aku paling suka dengan jalan Pulang… Kenapa ? Karena, menurut mitos. Jalan pulang itu terasa lebih cepat dari pada waktu kita mau pergi. :-)
Itu sempat beberapa kali terbukti lho… Dalam setiap aku melakukan perjalanan.

Sampai di Tanjung Uban kira – kira jam enam sorean. Berhubung temanku belum datang untuk menjemput. Maka, aku nyari makan dulu. Cuma makan nasi goreng seafood dan minumnya Teh Obeng.

Hoaaammmmm…. Perjalanan ini terlalu banyak menunggu dan bersabar.

Tiba di kos-kosan temanku langsung mandi dan istirahat di dalam kamar.

Besoknya kita akan BERSEPEDA RIA…

BERSAMBUNG…

You Might Also Like

0 comments